Ilmu Kalam
Bismillahirrahmanirrahim.
semoga kita selalu dalam lindungan Allah Subhanahu wa taala.
Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh.
Konteks pertumbuhan Disiplin ilmu Kalam.
Sebagaimana Disiplin keilmuan Islam yang Lain, ilmu Kalam dapat ditelusuri kebalakang bagaimana Konteks pertumbuhannya.
Ilmu Kalam sendiri ketika ditelusuri, sangat erat kaitannya dengan skisme atau perpecahan dalam Islam.
Tepatnya pada masa pembunuhan Khalifah Ustman Bin Affan atau yang biasa di kenal dengan Al-fitnah Al-kubra atau fitnah besar.
Secara harfiah Kalam berarti pembicaraan yang bernalar atau dengan logika, sebagaimana logika dalam bahasa Yunani yaitu logos berarti pembicaraan.
Untuk itu Ilmu Kalam amat erat kaitannya dengan logika.
Logika sendiri bersama dengan falsafah secara keseluruhan dikenal oleh masyarakat muslim, melalui pembebasan daerah-daerah Non Muslim yang sebelumnya sangat kental dengan budaya Helenisme yaitu budaya Yunani yang bercampur dengan Budaya semit, sehingga sangat kuat penggunaan logika dan filsafat, daerah itu meliputi Syiria, Irak, Mesir dan Anatolia, dengan pusatnya di Damaskus, atiokia, harran dan alexandria, juga persia.
Pada mulanya Logika dipakai dalam penelaran keagamaan oleh kelompok yang membunuh Khalifah Ustman, mereka berargumen bahwa Khalifah Ustman telah melakukan dosa besar dalam menjalankan pemerintahan, sehingga harus dibunuh, dan pemahaman para pembunuh Khalifah Ustman inilah yang menjadi cikal bakal paham Qadiriyah suatu pandangan bahwa manusia mampu menentukan amal perbuatannya sendiri, atau kebebasan dalam memilih.
Pada perkembangan selanjutnya para pembunuh Khalifah Ustman ini menjadi pendukung Khalifah Ali Bin Abu Thalib, kemudian keluar karena kecewa terhadap Khalifah Ali yang menerima usulan perdamaian pada peristiwa shiffin dimana Khalifah Ali kehilangan kekuasaan atas perdamaian tersebut.
Mereka membentuk kelompok baru yang kemudian dikenal dengan nama Khawarij.
Pemikiran khawarij paling banyak di warisi oleh Kaum mutazilah, mereka inilah yang paling banyak mengembangkan ilmu Kalam, salah satu cirinya adalah rasionalitas dan berpaham Qadiriyah, lawan dari paham jabariyah, namun menariknya yang pertamakali benar-benar menggunakan penalaran Yunani justru kaum jabariyah melalui seorang yang bernama jahm Ibnu Shafwan yang mengatakan bahwa manusia tidak berdaya dihadapan kehendak Tuhan, Ia mengambil dari paham ariistoles tentang Akal pertama.
Kaum mutazilah membantah apa yang dipahami oleh kaum jahm atau Qadiriyah tapi banyak mengambil metode penalaran dari kaum Jahm Ibnu Shafwan, mereka juga mengambil referensi dari buku Persia dan India yang puncak penerjemahannya tejadi pada masa pemerintahan Al-mamun Ibnu Harun Ar-Rasyid 198-218 H.
Pada pasa masa ini juga terjadi pertentangan antara mutazilah dengan kaum Hadits yang di pimpin oleh Imam Ahmad bin Hambal pendiri Mazhab Hambali,
Pada perkembangan selanjutnya, ilmu Kalam tidak lagi dimonopoli oleh Kaum Mutazilah.
Seorang sarjana dari kota Basrah Irak Abu Al-hassn al-asyari 260-324 H seorang terididik dalam alam pemikiran mutazilah, pada usia 40 meninggalkan Mutazilah dan mempelopori suatu Ilmu Kalam yang anti mutazilah yaitu Kalam Al-asyari, kalam yang menjadi penengah antara dua paham ekstrim Qadiriyah dan jabariyah dengan teorinya yang penting yaitu Teori Kasb.
Terkait dengan teori Kasb ini akan kita bahas pada Tulisan Selanjutnya.
referensi: Islam Doktrin dan Peradaban Karya Nurkholis Madjid
Komentar
Posting Komentar